Wednesday, 24 August 2016

Ranu Kumbolo (part 5)





Perjalanan dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo biasanya hanya membutuhkan waktu empat jam. Tapi perjalanan kita benar-benar ngaret dikarenakan banyak hal-hal aneh yang kita alami. Kita memulai perjalanan setengah lima sore dari Ranu Pani. Awal perjalanan semuanya masih baik-baik saja, karena fisik kita masih kuat dan memang trek menuju Ranu Kumbolo sangat nyantai. Sepanjang jalan kita sering berjumpa sama pendaki yang turun dan dengar-dengan kabar ada juga pendaki yang dihukum karena mengambil bunga Edelweis, pendaki tersebut disuruh mengembalikan lagi ketempat semula. Ada juga pendaki yang dibawa dengan tandu, entah kenapa gua juga gatau, pokonya saat itu banyak sekali pendaki yang turun karena sebelumnya ada 2 tanggal merah disatu minggu yang sama sehingga menjadikan extra extra long weekend. Bahkan kuota pendakian Semeru dibuka sampai 3000 orang lebih. Setelah pendakian massal tersebut dampaknya sangat terasa untuk kebersihan gunung Semeru, banyak sekali sampah-sampah yang berserakan disekitar Gunung Semeru.
Oke, lanjut lagi ke perjalanan. Sebenernya unutk estimasi waktu dari pos ke pos gua sudah lupa dikarenakan perjalanan ini sudah setahun lalu, tapi kejadian-kejadian aneh selama perjalanan masi terekam walaupun sudah sedikit samar-samar. Sepanjang perjalanan dari Ranu Pani sampai pos tiga lancar, hanya saja temen saya Nurul yang baru pertamakali mendaki muntah-muntah terus mungkin karena masuk angin. Sekitar jam 10 malam kita memutuskan istirahat di pos tiga karena kondisi Nurul semakin memburuk. Di pos tiga kita juga bejumpa dengan pendaki dari Surabaya yang fisiknya juga mulai melemah, ia mendaki dari jam dua siang. Waw, lama banget. Dari jam dua siang, jam 10 malam masih di pos tiga, ini perjalanan yang sangat panjang sepertinya. Denger-denger, niatnya mereka akan ngecamp di pos tiga dikarenakan konidisi tubuh anggotanya ada yang kurang fit dan  sudah tidak ada pendaki lain yang naik. Ternyata tuhan masih memberikan kebaikan untuk mereka, setelah lama menunggu di pos tiga datanglah kelompok kita sebagai pendaki yang terakhir.

            Setelah istirahat dan berbaur dengan pendaki asal Surabaya akhirnya mereka akan ikut jalan bareng kita menuju Ranu Kumbolo. Disinilah aroma-aroma mistis mulai terasa. Dari pos dua, perjalanan menuju Ranu Kumbolo Nurul yang paling depan memimpin jalan dikarenakan tracknya yang tidak terlalu luas dan kondisi nurul yang harus diperhatikan. Untuk menghancurkan sepinya suasana Nurul yang memang memegang komando perjalanan mencoba menyuruh kami berhitung bersautan-sautan. Kebetulan posisi kita memanjang  berbentuk seperti ular. Nurul berteriak “satu” dan mulailah bersaut-sautan menghitung, kebetulan saya berada diposisi nomer sembilan, dan Fajar berada diurutan terakhir yaitu nomer 10. Satiap kali Nurul mengajak menghitung, saya jarang sekali dengar suara Fajar untuk menyaut untuk menyebutkan angka 10 sebagai posisi dia dan untuk meyakinkan bahwa kelompok kita lengkap. Mungkin karena baru kenal, Fajar masi sedikit malu atau memang sifatnya yang pendiam. Setiap kali mengajak berhitung dan saya tidak mendengar teriakan dari Fajar, saya selalu menoleh kebelakang  untuk memastikan bahwa kondisi Fajar baik-baik saja.
            Ketika kita bergegas mau melanjutkan perjalanan dari pos tiga menuju Ranu Kumbolo, seperti biasa Nurul selalu mengajak berhitung. Berhitung pun dimulai, hitungan pun sekarang berakhir di angka 10, ini tandanya kelompok kita lengkap. Tapi anehnya kenapa Nurul mengulang berhitung, dan setelah hitungan selesai kelompok kita masi tetap lengkap. gua sudah mengajak berjalan, tapi Nurul belum mau jalan, sambil masang muka penasaran dan kesel dia mengajak menghitung ulang, dan hitungan masi sama berakhir pada angka 10. Gua mulai bingung sama Nurul. “udah ayoo jalan, nanti keburu kemaleman” sambil bicara, gua mulai melangkahkan kaki, berharap yang lain mengikuti langkah gua. Tiba-tiba Nurul bicara dengan lantang “eh, entar dulu tungguin dua lagi, tadi kan berangkat bareng masa mao ditinggal”. Anak-anak yang lain mulai bingung. Gua pun bertanya “dua lagi siapa? Kan dari tadi kita 10 orang” terus Nurul jawab dengan muka bingung “lah daritadi pas berhitung kan ada 12, masa sekarang 10 doang”. Wah disini gua mulai ngerasa ada yang ga beres, soalnya setiap kali berhitung, selalu putus di angka sembilan yaitu gua, jarang banget gua denger Fajar ikut berhitung. Terus kenapa tiba-tiba Nurul bilang setiap berhitung terakhirnya di angka 12. Kondisi saat itu jam 11 malem kalo ga salah, dan suhu di pos tiga kurang lebih 10drajat, udara dingin dan kejadian aneh yang menimpa kelompok kita berhasil membangkitkan bulu kudu. Alhasil kita langsung ambil langkah seribu meninggalkan pos tiga, untungnya kita dapet barengan pendaki Surabaya, jadi lebih ramai lagi perjalanan kita.

            Kurang lebih jam 12 malem kita sampai di Ranu Kumbolo, karena udara Ranu Kumbolo yang cukup menusuk tulang kita langsung bergegas mendirikan tenda. Malam itu, ada lumayan banyak yang mendirikan tenda di Ranu Kumbolo, tapi suasana malam saat itu sangat sepi tidak ada pendaki yang berada diluar tenda, mungkin dikarenakan tidak boleh membuat api unggun, akhirnya pendaki lebih memilih mengahatkan tubuh di dalam tenda. Selesai mendirikan tenda kita semua langsung beristirahat. Suhu di Ranu Kombolo memang sangat ekstrim sehingga mampu menciptakan udara dingin dan butiran-butiran es diatas tenda dan dedaunan. Udara dingin Ranu Kumbolo sangat menggangu tidur, gua takut kejadian hipotermia di Papandayan terjadi lagi. Karena sangat lelahnya berjalan jauh, dan setelah gua coba paksain buat tidur, Alhamdullilah gua bisa tidur nyenyak dan saking nyenyaknya sampe bangun kesiangan. Di Ranu Kumbolo emang enak banget buat males-malesan, buka tenda liat view danau Ranu Kumbolo dengan pemanis bukit-bukit disekelilingnya sambil makan Indomie rebus pake cabai; Ini hal sederhana yang mahal dan susah didaptkan di perkotaan.
 Setelah puas males-malesan  dan makan siang di Ranu Kumbolo, gua, Arif, Fajar, Lek Wono, Rizky dan Tanjung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Kalimati dengan tujuan ke puncak. Yang lain tidak ikut ke puncak dan lebih memilih menunggu di Ranu Kumbolo. Jam satu siang kita berempat berangkat menuju Kalimati. Tanjakan Cinta, jalanan yang terlihat tidak begitu menanjak tapi pas dirasakan langsung, ternyata lumayan menguras tenaga juga. Disini banyak pendaki yang menjadi sombong, karena saat dipanggil oleh temennya dia tidak mau menoleh, termasuk gua juga sih. mungkin karena korban film 5cm. Walaupun disaat itu gua mempunyai banyak cabe-cabean tapi gua tetep mengikuti tradisi Tanjakan Cinta, yaitu tidak boleh menoleh kebelakang disaat melewati Tanjakan Cinta. Gua terus membayangkan muka Putri Titian berharap nanti turun dari semeru bisa berjodoh sama Putri Titian wkwkwkwk. 



 


            Setelah puas menikmati Tanjakan Cinta, sampailah dipenghujung jalan diatas bukit yang memberikan keindahan yang luar biasa. Kita bisa mendapatkan dua pemandangan keren sekaligus antara Ranu Kumbolo dan Oro-oro Ombo. Wah perjalanan mendaki semeru memang sangat memanjakan mata. Saking takjubnya dan tidak mau sampai kehilang moment langsunglah kami mengeluarkan persenjataan untuk axis yaitu tongsis dan smartphone. Untuk mencapai pos Cemoro Kandang ada dua jalan. Jalan yang pertama kita harus berbaur dan menari dengan bunga Verbena Brasiliensis. Jalur ini yang biasanya dipilih pendaki disaat akan menuju Kalimati karena banyak pendaki yang ingin melihat secara dekat dan mengabadikan momentnya bersama bunga tersebut. Oh iya, bunga yang di Oro-oro Ombo itu bernama Verbena Brasiliensis, bukan Lavender ya gaes. Oke lanjut ke jalur kedua. jalur kedua adalah melewati jalan setapak di bahu bukit. Dari atas bukit Tanjakan Cinta kita ambil arah kiri, nah pemandangan Oro-oro Ombo dari atas bukit ini pun ga kalah cantik. Jalur ini biasanya dilalui pendaki ketika kembali menuju Ranu Kumbolo. Walaupun ada dua jalur yang berbeda tapi tujuannya tetap satu yaitu Cemoro Kandang sebagai pos persihnggan pendaki untuk beristirahat sejenak.




            Siang itu di Pos Cemoro Kandang. Panasnya terik matahari membuat tenggorokan ngebul mengeluarkan asap karena saking keringnya. Cemoro Kandang adalah tempat yang cocok untuk beristirahat karena dikelilingi pohon-pohon yang mempunyai daun rimbun dan disana juga terdapat penjual minuman, gorengan dan semangka. Minuman yang dijajakannya juga tidak begitu banyak macamnya. Hanya ada air mineral, Mizone dan minuman bersoda. gua tertarik dengan Mizone yang terlihat sangat menyegarkan dan menari berliuk-liuk mencoba menggoda. Akhirnya gua tergoda, tanpa pikir panjang langsung mengambil, memutar tutup botolnya, meneguk habis hingga tetes terakhir. Brrrr,, gila seger bangat. Tapi kesegaran gua tiba-tiba sirna ketika abang abangnya memberitahu harga perbotol Mizone adalah Rp.15.000. wah kalo beli di Alfa bisa dapet 5 nih hahaha. Tapi yawdahlah ya, dia juga cape bawanya dari bawah sampe atas butuh waktu yang lama juga, jadi menurut gua ya wajar sih. Gua ngasih uang  20ribu, masi ada kembali 5ribu. Sekalian berbagi rezeky sama penjualnya, gua minta kembaliannya dituker semangka aja. Dikasihlah dua potong semangka yang terlihat seperti air sungai yaitu diam-diam menghanyutkan. Jika dipandang semangka ini biasa-biasa aja, warnanya juga pucat tidak begitu cerah. Setelah gua nyobain tuh semangka, ternyata inilah yang namanya kesegeran sejati. Manisnya semangka dan dinginnya semangka yang terbuat dari dinginnya alam sekitar membuat rasa semangka Semeru berbeda dengan semangka yang di toko-toko buah. Gua rela ngeluarin uang 30rb Cuma buat jajan semangka saja hahaha. Semangka bener-bener bikin ketagihan pokonya beda banget sama semangka yang ada di toko-toko maupun swalayan-swalayan besar. Hal ini bener-bener gua buktiin sendiri. setelah turun dari Semeru, kita nginep di kota Malang. Temen – temen gua sengaja beliin satu buah semangka yang masih bulet untuk gua, mungkin karena harganya murah dan mungkin karena dia ngeliat pas di Semeru, gua suka banget sama semangka. Pas gua cobain tuh semangka ternyata rasanya beda jauh banget. Walaupun rasa semangkanya manis tapi tetapnya terasa adem dimulut, rasa manisnya beda. Pokoknya semangka Semeru, Semangka terenak yang pernah ada. Oh iya jangan terlalu banyak juga jajan Semangka di Semeru apalagi sambil makan gorenganya juga, bisa-bisa kena BAB. Hal ini gua rasain sendiri, saking lapernya gua makan gorengan sebagai pengganjal perut dan makan semangka untuk menghilangkan dahaga. Akibat sifat rakus gua, akhirnya gua terkena BAB. wah sumpah betapa ribetnya ketika kena BAB. hampir berapa jam sekali harus boker dan terkadang habis boker mao boker lagi. Abis dah gua jadi bahan bulyan temen-temen.


 Setelah puas menikmati alam Cemoro Kandang yang sangat memanjakan diri sambil memakan semangka, kita melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Dari Cemoro Kandang menuju Kalimati jalanannya tidak begitu menanjak masi ramah untuk pendaki pemula, hanya saja tracknya yang kita injak adalah pasir. Pasirnya bener-bener nyiksa banget sih, soalnya setiap pijakan orang yang didepan kita debunya menyebar kemana-mana dan membuat kita susah bernafas. Jalan menuju Kalimati cukup jelas, tinggal ikuti jalan setapak saja sampai nanti bertemu pos Jambangan. Dari Jambangan kita bisa melihat view kegagahan Sang Mahameru.  




Wednesday, 3 August 2016

Akhirnya Semeru (part 4)










Setelah mengalami hampir hipotermia di Papandayan, gua merasa bahwa jiwa ini bukanlah menjadi anak gunung. Semenjak itu juga gua berjanji tidak akan mendaki gunung lagi. Gua kubur dalam-dalam tentang Semeru. Ternyata mendaki gunung tidak segampang yang gua pikirkan. Mendaki gunung itu, minimal harus mempunyai persiapan yang cukup; mulai dari fisik, mental, dan logistik.


Setelah kembali dari Papandayan gua mulai fokus kuliah. Bandung, kota yang menjadi pilihan gua untuk menuntut ilmu. Wanita, kuliner, dan alam. Itulah alasan gua memilih Bandung sebagai kota persinggahan hidup ini. Bandung udah terkenal banget soal urusan wanitanya yang kece-kece, Bandung juga terkenal banget masalah kulinernya yang unik-unik dan menggoyang lidah. Dan masalah alam, gabisa diragukan lagi. letak kota Bandung yang seperti mangkok membuat Bandung mempunyai wisata alam yang keren-keren. Ibarat mangkok, Bandung itu ada di dalem mangkok dan gunung-gunung sebagai pinggiran mangkoknya yang menutupi Bandung. Selama tinggal di Bandung  sudah lumayan banyak wisata-wisata keren yang gua kunjungi. Semenjak itu niat gua untuk mendaki gunung mulai kembali.


Pada awal tahun 2015 saat kelas pertama mata kuliah Bahasa Inggris, Ibu dosen tercinta tiba-tiba menanyakan rosolusi apa yang akan dicapai pada tahun 2015 ke semua mahasiswa yang ada di kelas. Setelah beberapa temen gua menjawab resolusinya, tiba saatnya giliran gua untuk menjawab. Hidup yang selama ini hanya mempunyai mimpi-mimpi yang klise seperti membahgiakan orang tua, ingin sukses, ingin kaya, ingin punya pacar, ingin terbang, ingin jalan di air, ingin ini, ingin itu banyak sekali. Gak mungkin seorang mahasiswa semester empat menjadikan mimpi itu sebagai resolusinya untuk tahun 2015. Setelah operator otak ini mati-matian mencari berkas-berkas mimpi yang hilang atau terselip atau juga ternyata berkas itu belum ada dan harus membuatnya dulu. Setelah beberapa detik berpikir akhirnya operator otak ini berhasil menemukan ( bukan menemukan, tapi lebih pantas dibilang membuat-buat mimpi) berkas mimpi yang pantas dijadikan resolusi. Setelah berhasil menemukan berkas mimpi tersebut dengan gagahnya gua mengatakan “pada tahun 2015 ini, saya akan menginjakan kaki saya di puncak tertinggi pulau jawa yaitu, Mahameru” sebenernya itu hanya sekedar mimpi buatan demi memenuhi integritas diri  sebagai mahasiswa semester empat. Gua berpikir ah biaran aja boong, Cuma pertanyaan iseng-iseng doang ini, ga serius. Setelah gua menjawab resolusi ternyata respon dosen gua sangat bagus sekali, dia bertanya kapan? Dengan siapa? Dan dia berkata “beritahu saya jika resolusimu berhasil!” gua merasa bahwa ada yang percaya sama mimpi ini. Disaat ini juga gua mulai membulatkan tekad bahwa mimpi buatan ini harus benar-benar terwujudkan.


Seiring berjalannya waktu gua terus mencari cara agar mimpi ini benar-benar terwujud, dari mulai budget, temen perjalanan, fisik, mental dan informasi-informasi tentang semeru. menurut informasi yang gua dapetin bahwa semeru akan dibuka kembali pada awal mei karena sebelumnya ditutup sejak januari untuk perbaikan ekosistem.  Pada awal maret gua mulai mencari-cari temen yang mau ikut naek bareng. Akhirnya dapet enam orang calon yang mau naek bareng. Tetapi ketika H – 1 bulan tiga dari enam calon tersebut mengundurkan diri. Sebenarnya sih gua ga perlu repot-repot nyari temen, ngurus logistik dan simaksi kalo ikut Open Trip tapi selain budget Open Trip yang lebih mahal, gua lebih suka bebas tanpa ikatan itulah alasan yang buat gua gak ikut Open Trip.


Yeee akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. Oh iya, gua perkenalkan dulu rekan dalam perjalanan gua. Ada Arief dan Akbar dan Nurul. Sekedar bocoran aja, Akbar dan Nurul adalah korbang dari tipudaya gua. Sebenernya mereka belom pernah naik gunung dan gaada niatan buat naek gunung. Setelah gua rayu-rayu dan mengiming-imingi bahwa Semeru itu indah banget dan tracknya enjoy, akhirnya mereka mau, hehehe. Oh iya, satu lagi. Sebelum ke Semeru gua latihan mendaki dulu ke Gunung Guntur yang katanya miniaturnya Semeru. Perjalanan ke Gunung Guntur gaakan gua ceritain disini, mungkin nanti setelah menyelesaikan tulisan perjalanan mendaki Semeru.
kita berangkat ke Malang menggunakan kereta api Matarmaja. Kita sepakat menjadikan rumah gua sebagai meet point dan packing alat-alat logistik karena deket dari stasiun kereta api Poris. Setelah packing selesai kita langsung menuju Stasiun Pasar Senen. Kita tiba di Stasiun Pasar Senen setengah jam sebelum keberangkatan kereta Matarmaja. Bulan Mei 2015 emang waktu yang cocok banget untuk para pendaki melakukan tripnya karena pada waktu itu cuaca cerah dan ternyata banyak sekali pendaki yang memenuhi Stasiun Pasar Senen.
Oh iya, sekedar informasi buat kamu yang berada di jabodetabek yang ingin travelling menggunakan kereta tapi belum punya pengalaman naik kereta sebelumnya. Jadi kereta untuk ke Pulau Jawa terbagi dua, ada ekonomi dan bisnis/esekutif. Nah untuk kereta ekonomi biasanya keberangkatannya menggunakan Stasiun Pasar Senen. Sedangkan yang Bisnis/eksekutif keberangkatannya menggunakan Stasiun Gambir.


Jam 15.15 WIB kereta kita berangkat menuju Malang. Ini pengalaman pertama gua menggunakan kereta jarak jauh. Awalnya sih seneng-seneng aja dikerata, bisa ngobrol sama orang-orang baru, melihat pemamdangan diluar, tidur dalam kereta, dll. Lama-kelamaan bete juga dalam kereta yang tempat duduknya itu terbuat dari plastik dan untuk sandaran badannya sangat tegak. Bayangkan kita berada dikerata hampir 17 jam, dan kegiatannya hanya duduk-duduk saja, hahahaha.
16 Mei 2015, jam delapan pagi. Akhirnya kita sampai di Malang. Uh, seneng bangat rasanya bisa melepaskan pantat dikursi panas kereta Matarmaja. Tips nih buat elu yang mau mendaki semeru menggunakan kereta. Setelah turun dari kereta cari barengan untuk menyewa mobil angkot yang akan mengantarkan kita sampai Pasar Tumpang. Selain biaya lebih murah, waktu yang kita butuhkan juga lebih singkat karena tidak harus turun naek angkot menuju terminal lalu nyambung lagi ke Tumpang. Oh iya, hati-hati ya gaes pas keluar Stasiun banyak calo, supir angkotnya juga galak-galak. Gua pun menjadi korban supir galak tersebut. Setelah keluar dari Stasiun, gua ga langsung menyewa angkot karena lataran gua hanya berempat dan pasti biaya yang dikeluarkan untuk patungan bayar angkot pasti gede. Gua pun nyantai-nyantai dulu di depan Stasiun sekalian nyari barengan. Ketika lagi nyari barengan, datanglah supir angkot menawarkan jasa untuk mengantar ke Pasar Tumpang. Karena gua dibesarkan di Fakultas Ilmu Komunikasi, cara berpakaian, cara bicara, dan  pelayanan selalu menjadi pertimbangan untuk memilih jasa yang akan digunakan. Dan entah gimana, naluri gua berkata untuk menolak tawaran  supir angkot tersebut. Padahal cara berpakaiannya normal, hanya cara bicaranya aja yang kurang enak didengar, hahaha. Gua terus keliling mendatangi kelompok-kelompok pendaki secara bergantian. Selagi jalan mencari barengan datanglah supir yang tadi untuk menawarkan jasanya kembali dengan sedikit maksa, tapi tetep gua tolak karena gua belom dapet barengan dan gua rada kurang suka jika harus dikejar-kejar. Akhirnya dapet juga barengan empat orang, jadi total kita sekarang delapan orang. Kebetulan dekat kita ada angkot, akhirnya gua coba nego sama angkotnya dan kita deal deangan harga 100ribu sampai Pasar Tumpang. Kita semua langsung berkemas memasukan cerier kedalam angkot, dan tiba-tiba saja supir yang tadi menawarkan jasanya ada didekat saya dan berbicara dengan nada marah “bilang aja lagi nyari barengan, jangan nolak-nolak terus. #$@#$%$#$@$#^%$^^&%&” entah kata-kata apa selanjutnya, karena dia menggunakan bahasa jawa dan saya tidak menegrti. Okelah skip, gua anggap itu hanya angin lewat dan angkot kita langsung menuju Pasar Tumpang.
Tibalah kita di desa Tumpang, ternyata kita tidak dibawa ke Pasar Tumpang. Kita dibawa kerumah orang yang menyewakan jeep bernama mas Kentung. Disana tidak hanya ada kelompok gua, tapi banyak juga kelompok lain sekitar 30 orang. Di rumah mas Kentung kita nyantai-nyantai, cuci muka, bersihin badan dan makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pos pendaftaran di desa Ranu Pani. Ketika kita lagi nyantai, rombongan yang 25 orang sudah diangkut oleh jeep-jeep temennya mas Kentung, hingga sisa empat orang yang gabung sama kelompok kita menjadi 13 orang. Akhirnya rombongan kita berangkat menuju Ranu Pani dengan dua mobil jeep, satu jeep terbuka, dan satu lagi jeep tertutup, seharga 600ribu. Waw, murah banget. Saya pikir 13 orang akan dibawa oleh satu jeep, ternyata dua jeep. Kata mas Kentung satu jeep lagi sekalian mau jemput orang, jadi sekalian aja. Akhirnya kita berangkat, dan bodohnya saya memilih ikut di jeep yang tertutup karena kita berangkat jam 11 siang dan panasnya sangat terasa dikulit. Perjalanan dari Tumpang ke Ranu Pani lumayan memakan waktu, tapi pemandangan yang diberikan sangat indah. Jadi hati ini sedikit kecewa karena di jeep tertutup ruang gerak untuk melihat pemandangan diluar sangat susah.
Akhirnya sampai di Ranu Pani. Dari 13 orang, tiga orang memilih untuk mendaki duluan karna dia hanya punya waktu tiga hari dua malam untuk mendaki. Sedangkan sisanya sama seperti saya, melakukan pendakian empat hari tiga malam. Kita bersepuluh memutuskan untuk beristirahat dulu sambil menikmati Ranu Pani. Setelah puas besantai akhirnya kita mulai mendaki jam  16.30 WIB. Dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo biasanya memakan waktu empat jam.  Gua pikir ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan karena berangkat sore dan pasti akan ketemu malem diperjalanan, biasanya kalo pendakian malem, perjalanan tidak akan terasa tapi perjalanan malem di Semeru sangat berbeda. Kolompok kita banyak menemukan kejadian-kejadian aneh.

Friday, 18 March 2016

Part 2 (Backpacker Tangerang - Papandayan)

       











     Mahameru Mahameru Mahameru, Cuma itu yang ada di otak gua sekarang. Demi mahameru gua relain melepaskan pekerjaan. Mengundurkan diri adalah pilihan terakhir, gua terpaksa harus mengudurkan diri karena tidak bisa cuti – usia gua berkerja belum genap satu tahun. Enggak apa-apa kehilangan pekerjaan yang penting  tidak kehilangan pengalaman. Bagi gua masa muda adalah anugerah dari tuhan yang diberikan kepada manusia hanya sekali dan harus digunakan dengan baik. Gua memilih menggunakan masa muda semaksimal mungkin, gua lakukan apa yang gua mau, gua lakukan apa yang gua suka, gua lakukan apa yang nanti ga bisa gua lakukan disaat tua. Gua yakin semua orang juga pasti ngelakukan hal yang sama. Bagi anak yang baru kemarin lulus sekolah gaji yang gua terima tiap bulannya memang cukup besar. Tapi setelah berpikir kembali apabila tetep memilih pekerjaan ini, ga akan ada perkembangan pada diri gua. Gua sama aja seperti mesin yang setiap harinya hanya bekerja lalu beristirahat, dan begitu terus sampai mati. Oleh karena itu gua putusin untuk mengundurkan diri.

            Sambil menunggu acc surat pengunduran diri, Gua langsung ngeboking tiket kereta, dan bodohnya  karena tidak pernah naik kereta jarak jauh, gua tidak tahu waktu saat high season. Tiket kereta Matarmaja Jakarta-Malang yang diincar sudah habis terjual sampai awal Oktober. Karena keterbatasan dana dan kesibukan dari temen-temen yang berbeda-beda akhirnya kita putuskan untuk gagal ke Semeru. Lalu kita cari alternatif tempat liburan lainya. Setelah browsing-browsing gunung yang dekat dari Tangerang, akhirnya kita di bingungkan oleh kedua gunung. Antara Papandayan atau Cikuray. Cikuray lebih tinggi dari Papandayan tapi menurut informasi yang didapatkan dari browsing bahwa trek Papandayan lebih mudah dibandingkan Cikuray. Karena kita pemula semua, alhasil kita memilih Papandayan.

            H -1 keberangkatan, kita berkumpul untuk mempersiapkan kebutuhan makanan untuk ngedaki. Dasar pendaki karbitan, kita malah sibuk  mempersiapkan makanan dan untuk persiapan alat outdoornya kita hanya mempersiapakan seadanya dan sesuai nalar kita tentang gunung saja.
1.      Jaket, karena digunung pasti dinging.
2.      Alat masak, kalo ga ada ini nanti ga bisa makan.
3.      Tenda, untuk tidur.
4.      Tas carrier, buat bawa barang-barang.
5.      Sepatu atau sendal, bebaslah sepunya anak-anak aja.
6.      Senter, buat malem kalo buang air.
Ya Cuma itu yang kita persiapkan. Kita tidak mempersiapkan sleeping bag, matras, dan obat-obatan. Pendakian kita sangat asal-asalan sekali, namanya juga pendaki karbitan. Korban 5cm.

            Hari H, saatnya berangkat. Sebelum berangkat kita berkumpul di basecamp untuk pembagian barang bawaan. Ketika lagi sibuk dengan barang-barang yang akan dibawa, ada Mail dateng menghampiri kita. Mail adalah abang-abangan yang sudah sangat berpengalaman sama pendakian gunung. Akhirnya kita basa-basi menawarkan Mail untuk ikut bergabung dengan pendakian ini. Tak disangka-sangka ternyata Mail langsung meng’iyakan tawaran kita. Karena Mail sudah berpengalaman, dia coba mengecek kembali persiapan kita dan melihat hasil packing pada carrier kita masing-masing. Setelah melihat persiapan dan hasil packing yang kita lakukan, Mail langsung memberikan komentar  “buseh elu pada egois egois amat, ini carrier masih pada kosong juga. Mending barangnya disatuin aja semua, biar isi carriernya pas, engga longgar. Jadi dibawanya enak”  dia juga menanyakan keberadaan sleeping bag dan matras? Dikarenakan ga punya dan males menyewa, gua jawab dengan entengnya “ngapain bawa gituan? Kan udah ada jaket” Mail langsung diam dan tersnyum. Gua ga tau maksud dari senyumannya apa? Mail kemudian langsung pulang ke rumah untuk melakukan persiapan kebutuhan diirinya. Setelah kembali lagi, Mail menyumbang 4 sleeping bag dan 4 matras yang dia punya. Karena Mail beranggapan packingan yang kita lakukan salah, Akhirnya ia harus merepacking Carrier kita. Setelah mail selesai packing, ternyata tersisa satu carrier kosong dan terapksa di tinggal. Team yang akan mendaki ada enam orang, empat orang membawa carrier, dua orang laginya hanya membawa badan, sebagai pemain cadangan jika nanti ada temen kita yang kelelahan membawa carrier. Itu yang Mail anjurkan kepada kita.

            Waktu sudah menunjukan jam 8 malam. Setelah semuanya sudah selesai, sekarang tinggal berangkat. Mail menganjurkan backpacker sebagai metode perjalanan untuk sampai ke Papandayan. Karena Mail yang lebih berpengalaman, kita mah ikut aja. Dari basecamp kita langsung menuju pasar Induk untuk mencari tebengan kepada truk sayur berplat Z yang ingin kembali ke garut. Buat kamu yang berada di Tangerang cobalah cara ini ketika kamu ingin mendaki gunung yang berada di garut, nantinya kita akan dimintain uang 20ribu satu orang, itu belum di tawar. Nanti sang supir akan mengantarkan ke tempat terdekat gunung yang ingin kita daki. Tapi untuk sekarang kayanya menumpang truk sayur bukanlah hal rahasia lagi bagi orang Tangerang. Hampir setiap weekend ada saja yang ramai-ramai menggamblok carrier dan menunggu truk sayur di pasar Induk.

            Jam setengah 10 malam kita berangkat dari Tangerang menuju Garut menggunakan truk syaur.  Oh iya, kita berangkat seminggu setelah lebaran. Waktu itu karena malam dan jalanan sangat sepi sekali. Waktu tempuh Tangerang – Garut hanya membutuh kan waktu sekitar 5 jam lebih. Jam 3 subuh kita sampai di alun-alun Cisurupan. Truk tidak bisa mengantar sampai Camp David karena dari alun-alun Cisurupan sudah ada mobil pick up yang akan mengantar kita sampai Camp David dengan tarif Rp20.000 perorang. Alun-alun Cisurupan sampai Camp David sudah menjadi trayek mobil pick, jadi tidak ada mobil lain yang mengantar pendaki sampai Camp David kecuali jika kita bawa kendaraan sendiri. Camp David adalah tempat pendaftaran kita untuk mendaki Papandayan.

            Sesampainya di alun-alun Cisurupan kita langsung mencari sarapan untuk mengisi perut sebelum memndaki. Setelah makan, kita langsung berangkat menuju Camp David.  Karena tidak setuju dengan tarif yang ditwarkan sang sopir pick up dan dari awal tujuan kita adalah backpacker jadi kita putuskan untuk jalan samapai keatas, tidak menggunakan jasa mobil pick up (ini perpaduan backpacker sama pelit). Selama perjalan kita selalu menoleh ke belakang, berharap ada mobil pick up kosong yang akan memberikan tebengan ke kita sampai Camp David. Sekitar sejam kita jalan tapi belum juga mendapatkan tebengan, berkumandanglah Adzan subuh. Kebetulan lokasi masjidnya tidak jauh dari kita, kita langsung solat sekalian istirahat. Seelesainya solat subuh, kita istirahat dulu di masjid sambil nunggu matahari terbit. Ketika sedang asik bercanda gurau, ada seorang bapak-bapak yang membawakan air panas, teh dan gula untuk kita. Katanya buat ngantein badan. Wah baik sekali yah. Akhirnya kita ngobrol panjang lebar dengan bapak ini. Gua ga tau namanya, hehe. Di sepanjang jalan menuju Camp David, banyak pohon sayuran. Jika kamu bisa melakuakan pendekatan dengan warga setempat, kamu coba minta sayuran dengan basa-basi membelinya, pasti akan dikasih gratis.

            Matahari mulai terbit, kita putuskan untuk berjalan kembali. Ga lama kita berjalan, banyak rombongan-rombongan pendaki yang menggunakan pick up menyusul kita. Tatapan tajam, senyuman manis dan kalimat “duluan yah!” selalu terdengar dari setiap pendaki yang melewati kita menggunakan pick up. Kita tetap menikmati perjalanan ini walaupun dalam hati menyesal karena sudah menyusahkan diri sendiri. Ga lama dari itu terlihat sebuah mobil pick up kosong yang berjalan kearah kita. Kita coba memberikan simbol mengacungkan jempol sambil di goyangkan ke kiri dan kanan. Berhentilah mobil itu sejajar dengan kita.

“ikut A sampe atas”
Mail membuka obrolan sambil berjalan kearah pintu mobil, menghampiri sang supir.
“sok, ada berapa orang?”
“ada enam A!”
“yawdah 60ribu sampe atas!”
“kurangin atuh A”
Sambil memasang muka melas, mail mencoba menawar
“yawdah 50ribu dah”
“ga jadi deh A kalo segitu mah”
“sok atuh berapa maunya”
Sang supir mulai merasa bosan
“30ribu sampe atas A”
“ya sok naek-naek cepet”
Sang sopir mengeluarkan kepalanya sambil menghitung jumlah anggota kami.

            Akhirnya kita berangkat menuju Camp David menggunakan mobil pick up dengan tarif Rp5.ooo perorang. Ternyata tadi kita selama berjalan belum ada setengah untuk sampai Camp David. Trek yang kita lalui masi jauh dan semakin keatas trek yang dilalui pun semakin sulit. Pantas saja supir-supir pick up memnita harga mahal untuk mengantarkan pendaki sampai Camp David.



            Jam 8 kita sudah sampai di Camp David. Kita langsung melakukan proses pendaftaran. Waktu itu, tiket masuknya hanya Rp2500, itu sudah maksimal berkemah tiga hari di Papandayan. Setelah melakukan pendaftaran dan nyantai-nyantai cantik, kita langsung melakukan pendakian. Jalur yang kita lalui untuk mendaki cukup landai. Setelah berjalan 30 menit, nanti kita akan bertemu sebuah kawah belerang yang baunya amat, teramat, sangat. Walaupun sudah memakai masker tapi baunya seolah-olah dengan sadis sengaja merobek masker kita dan memaksa aroma nan sedap yang dikeluarkan dari kawah itu.


          
  Setelah tiga jam berjalan, akhirnya kita sampai di Pondok Salada. Disini terdapat sebuah lapangan yang sangat luas, dan banyak pendaki-pendaki yang ngecamp disini untuk melakukan perjalanan menuju tegal Alun esok pagi. Kita langsung mencari sebuah tanah lapang dibawah pohon-pohon untuk mendirikan tenda. Selesai diriin tenda kita langsung nyantai-nyantai cantik. Yes, seneng banget bisa berada disini, bener-bener ngerasain suasana alam. Tapi ternyata gua belum bisa nikmatin alam. Yang gua lakukan di alam, sama aja kaya di rumah. Cuma males-malesan doang di tenda sampe malem tiba.


         

   Malem pun tiba, ketika semua sudah tertidur gua dan Fadli masih ga bisa tidur. Ga tau sugesti karena baru pertama kali di alam atau apalah. Semakin malem semakin dingin. Ah tai banget, ko dingin banget sih. Duh, padahal udah make jaket double. Mungkin faktor dingin juga kali yang bikin ga bisa tidur. Gua terus ngeliatin jam di HP, berharap cepat-cepat datengnya pagi, tapi semakin gua sering liat, gua ngerasa waktu ga jalan. Sekitar jam 2 malem, gua coba tidur, ga lama setelah meremin mata, badan gua langsung kedinginan parah. Gua langsung susah nafas. Disaat itu, impian gua tentang semeru langsung hilang dari kepala gua. Gua berkata dalam hati, ga mau-mau lagi naik gunung. Disitu gua udah pasrah, kalo emang harus meninggal di Papandayan. Dengan sekuat tenaga gua coba berdiri, gua minta bantuan temen gua buat bikin api unggun. Ternyata bikin api unggun di gunung ga segampang ya gua bayangin, di tambah lagi ranting-ranting pohonya basah terkena embun. Untung aja Fadli bawa sepirtus, jadi agak gampang untuk membakar kayunya. Setelah api unggu menyalah, gua langsung menghangatkan badan. Gua memilih jalan-jalan ga jelas, biar badan terus bergerak -- biar badan ga terlalu dingin. Setelah badan mulai cape, gua kembali ke tenda dan mencoba tidur kembali. Akhirnya gua bisa tidur dengan nyenyak sampe pagi.

            Besok paginya gua membatalkan ngecamp dua malem, karena takut kejadian semalem keulang kembali. Disini gua baru sadar bahwa persiapan gua ke gunung sangat kurang. Untung saja ini masi di Papandayang, tidak jadi ke semeru. Andai aja ke semeru jadi tanpa pengetahuan dan bekal yang cukup, mungkin sekarang gua udah tewas. Ternyata tuhan masi memberikan gua hidup. Terima kasih Allah S.W.T. setelah memasak  untuk makan siang, kita putuskan untuk kembali pulang, meninggalkan Papandayan, walaupun stock makanan masih banyak.

            Seperti yang kita lakukan sebelumnya, dari Camp David, kita tidak langsung menggunakan jasa mobil pick up. Kita berjalan dulu kebawah sampai menemukan tebengan, dan ternyata benar, backpacker itu penuh dengan keajaiban. Kita mendapatkan tebengan lagi dengan membayar Rp5000 perorang sampai alun-alun cisurupan. Dari alun-alun cisurupan, kita mencari tebengan sampai terminal bus, niatnya kita akan menggunakan bus untuk pulang dikarenakan truk sayur dari garut tidak menerima penumpang untuk ke Tangerang soalnya mereka membawa sayur-mayur yang membuat truknya penuh.
           
            Setelah di terminal kita berubah pikiran, kita memilih mencari tumpangan sampai cileunyi Bandung. Akhirnya dapet tumpangan mobil pick up yang menawarkan sampai Cipanas. Kita berpikir wah lumayan tuh sampe Cipanas bogor. Ternyata Cipanas bukan hanya di bogor saja, ternyata Garut juga punya Cipanas. Dari Cipanas kita berjalan menuju jalan raya Garut – Bandung sambil mencari tebengan. Akhirnya kita mendapatkan sampai alun-alun Leles garut. Di Leles kita putuskan untuk istirahat makan nasi goreng. Waktu itu sudah jam 8 malam, tapi kita masi terombang-ambing di kota orang. Setelah selesai makan, kita lanjutkan jalan lagi. setelah setengah jam jalan akhirnya ada mobil pick up yang menawarkan tumpangan kepada kita. Kebetulan dia ingin ke cileunyi. Yeah, tuhan memang baik.

            Setelah beberapa menit mobil berjalan, sampailah di Nagreg. Supirnya ingin istirahat dulu di warung pinggir jalan. Sambil istirahat, sang supir mencoba mengajak ngobrol kita dan ternyata sang supir adalah anak yang suka mendaki juga. Dia menanyakan kita mau pulang kemana? Kita menjawab ke Tangerang. Terus dia bilang, yawdah bareng aja sama gua, gua mau balik ke jakarta. Tuhan benar-benar membuktikan sebuah keajaiban dalam backpacker. Demi kita, sang supir mengurungkan niat untuk melewati jalan tol. Sang supir memilih rute jalan biasa karena membawa kita. Karena kebaikan sang supir, kita berinsiatif patungan untuk mengasih uang bensin kepada supir sebagai pengganti kebaikan dia.

            Itulah pengalaman gua backpacker sekaligus mendaki gunung. Gua sangat berterimakasih kepada Allah S.W.T. terma kasih juga kepada kedua orang tua gua yang selalu berdoa buat gua. Terimakasih buat temen-temen perjalanan Arief, Fadli, Mail, Riki, dan Surya. Terima kasih buat semua temen-temen yang sudah mendukung.
Jika ada yang mau ditanyakan, langsung saja tanyakan di komentar.

Terima kasih sudah membaca :)

Thursday, 10 March 2016

Part 1 (5cm ADALAH RACUN)



“Setiap kamu punya mimpi, keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini – di depan kening kamu. Jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang lima centimeter di depan kening kamu. Jadi dia gaakan pernah lepas dari mata kamu, dan kamu bawa impian kamu setiap hari, kamu lihat setiap hari dan percaya bahwa kamu bisa, bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, apapun hambatannya kamu bilang pada diri kamu sendiri kalo kamu percaya sama impian kamu dan kamu ga akan pernah menyerah. Belum pernah ada bukti-bukti nyata dalam angka yang bisa dipecahkan oleh ilmu pengetahuan, Tentang bagaimana keajaiban sebuah impian, persahabatan, cinta dan keyakinan bisa membuat begitu banyak perbedaan yang bisa mengubah kehidupan manusia, belum pernah ada. Hanya mimpi dan keyakinan yang bisa membuat manusia berbeda dengan mahluk lainya.”
“Hanya mimpi dan keyakinan yang membuat manusia menjadi sangat istimewa dimata sang pencipta, dan yang bisa dilakukan seorang mahluk bernama manusia terhdap mimipi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hany tinggal mempercayainya – percaya pada lima centimeter di depan kening kamu” Itulah monolog sekaligus epilog yang di ucapkan Zafran (Juple) pada film 5cm.

Gila ini film keren banget. Lampu studio udah mulai menerang tapi Gua masih belum bisa berdiri dari tempat duduk. Gua masi kepikiran sama indahnya semeru. Kapan ya gua bisa kesana?
“ayu keluar, mbak-mbaknya udah nungguin tuh!” ucap Lidya.
“iyah sebentar” gua masih terpesona sama filmnya
“liat tuh, Cuma tinggal kita berdua!” Lidya coba ngeyakinin gua.
Gilaa, ternyata beneran Cuma tinggal gua berdua sama Lidya yang tersisa didalem studio. Gua terlalu asik melihat credit title dan coba ngebayangin kalo gua ikut berkontribusi dalam pembuatan film 5cm, atau setidaknya gua bisa dateng langsung – nikmatin indahnya Semeru. Dari film inilah gua bisa merubah jawaban cita-cita gua yang tadi pilot (sekedar formalitas aja biar gua dibilang punya tujuan hidup, padahal sama ketinggian aja takut) jadi beridiri di puncak Mahameru. Sepertinya gua terlalu BaPer kepada 5cm.

Semenjak menonton film 5cm gua jadi alay, gua selalu mengutip kata-kata mutiara yang ada di film 5cm buat dijadiin status di media sosial dan gua juga tiba-tiba berpikir kalo diri gua adalah Zafran dalam film 5cm. Beberapa bulan berselang tapi baper gua sama 5cm engga juga ilang. Gua jadi suka liburan ke alam tapi nyari wisata alam di Tangerang sangat susah, dan dikarenakan saat itu gua masih kerja. jadi kesukaan gua liburan ke alam hanya sekedar suka, tidak terlaksana. 

Oh iyah, dulu itu tahun desmber tahun 2012. Gua lulus sekolah niatnya mau nganggur dulu setahun, soalnya pas masih sekolah gua jarang masuk dan lebih suka nyantai di rumah.  Entah ada setan apa di rumah gua, baru tiga minggu leha-leha di rumah (leha-leha adalah bahasa betawi kuno kalo B.Indonesianya nyantai-nyantai) tiba-tiba udah bosen bangat sama rumah, maunya main aja tapi temen-temen gua udah pada sibuk masing-masing.  Bosan ini membunuhku, begitulah kurang lebih jika D’masiv  featuring  gua membuat lagu.  Akhirnya gua bikin lamaran kerja yang banyak dan gua bagiin tuh lamaran kerja di pinggir jalan ke setiap orang yang lewat. Kurang lebih kaya sales-sales motor yang bagiin brosur.
Setelah usaha sana-sini masukin lamaran, akhirnya gua berhasil mendapatkan pekerjaan  yang engga gua idam-idamkan sama sekali. Daripada bete di rumah Cuma jadi mayat hidup yawdah dengan sangat terpaksa gua jalanin pekerjaan sebagai kepala toko swalayan. Pekerjaan ini membuat gua harus terpaksa memikul beratnya tanggung jawab, dari mulai uang minus, barang minus, kebersihan toko, keamanan toko, dll. Kadang juga dimarahin dan di hina sama manajer perusahaan gara-gara gua imut, lucu, tampan, dll. Namanya juga jadi pegawai - selalu tertindas sama atasan. kita belum benar-benar merdeka walaupun gaji yang dihasilkan lumayan, jika masih jadi pegawai.

Setelah menonton film 5cm membuat gua ingin merasakan indahnya alam Indonesia, tapi pekerjaan gua berkata lain, dia selalu melarang gua berjelajah karena menggap dirinya yang harus gua pentingin. Beberapa bulan terlewati setelah menonton 5cm hasrat buat menjelajah alam semakin kuat dan tiba-tiba hati berkata “ayolah, kapan lagi? Mumpung masi muda!”
Ternyata korban 5cm bukan hanya gua tapi teman-teman gua di kampung juga pada terinfeksi virus 5cm. Di kampung gua setiap bulan puasa selalu ada tradisi bangunin orang sahur, tau kan cara bangunin orang sahur gimana? Kamu ambil hp, beli perdana axis dan smsin orang sekampung, begitulah kurang lebih kalo di iklan Axis. Tapi di kampung gua beda, kita membawa  bedug  menggunakan gerobak lalu di pukul sehingga menjadi sebuah irama nan merdu sambil keliling kampung. Nanti menjelang akhir ramadhan biasanya kita keliling desa meminta dana sukarela tanpa paksaan kepada setiap rumah – sebagai imbalan karena sudah membangunkan sahur. Dana hasil bangunin sahur tidaklah sedikit, terkdang bisa sampai 3juta, dari dana itu biasanya kita pakai untuk lliburan.
Setelah dana hasil bangunin sahur terkumpul, terjadilah perdebatan tentang liburan. Karena banyak yang terkena virus 5cm, alhasil teman-teman gua ingin meraskan indahnya Semeru. Disinilah gua dan teman-teman sudah bisa di nobatkan pendaki karbitan. Gua dan temen-temen gua masih awam sama yang namanya gunung, gua ga tau apa aja yang harus dilakukan dan disiapkan. Setalah hati ini benar-benar yakin ingin menajajakan kaki di puncak tertinggi pulau jawa, ternyata Tuhan masih mengasihani kita dan membiarkan kita untuk tetap hidup.


Lanjut Part dua yah gaes...!!!